Filsafat sering kali disalahartikan sebagai alat untuk memenangkan debat atau menunjukkan kelebihan intelektual. Padahal, esensi sejati dari filsafat adalah mengubah ketidaktahuan menjadi kebijaksanaan—bukan menjadi sok tahu atau sekadar jago debat kusir. Seperti yang diajarkan oleh Sokrates, filsafat dapat menjadi panduan positif untuk menjalani hidup dengan lebih bijaksana.

Mari kita bahas lebih dalam tentang warisan pemikiran Sokrates, bapak filsafat Barat, dan relevansinya dalam kehidupan modern.

1. Mengakui Ketidaktahuan: Langkah Awal Menuju Kebijaksanaan

Sokrates, yang hidup di Athena pada abad ke-5 SM, percaya bahwa pengakuan atas ketidaktahuan adalah dasar pengetahuan sejati. Dia menyatakan, “Aku tahu bahwa aku cerdas karena aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa,” menekankan pentingnya kerendahan hati bagi seorang intelektual.

Meski Sokrates tidak meninggalkan tulisan, ajarannya terdokumentasi melalui karya muridnya, Plato. Dalam dialog seperti Apologia, Crito, dan Phaedo, Plato menggambarkan metode dialektika Sokrates—dikenal sebagai metode Sokratik.

Metode ini melibatkan pengajuan pertanyaan untuk menggali asumsi mendasar dan membantu lawan bicara menemukan pemahaman baru. Socrates tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan memotivasi pencarian kebenaran secara mendalam lewat dialog.

2. Kebijaksanaan dalam Hidup Sehari-hari

Sokrates sering dianggap sebagai “pengganggu” di Athena karena keberaniannya menantang status quo. Dia mempertanyakan asumsi-asumsi umum yang berlaku. Filosofinya mengajarkan pentingnya evaluasi diri dan pemikiran kritis dalam segala aspek kehidupan.

Sokrates mengungkapkan, “Kehidupan yang tidak diselidiki, tidak layak dihidupi.” Pernyataan ini mengajak kita untuk terus mempertanyakan nilai-nilai, tujuan, dan tindakan kita. Dengan pendekatan ini, Sokrates mendorong penggunaan akal sehat untuk menantang dogma dan menemukan kebijaksanaan.

Sayangnya, keberanian intelektualnya membuat Sokrates dihukum mati. Dalam Apologia, ia menegaskan bahwa “Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa kamu tidak tahu apa-apa.” Sikapnya yang teguh pada prinsip moral bahkan di hadapan hukuman yang merenggang nyawa, menjadi inspirasi bagi banyak orang hingga hari ini.

3. Pentingnya Bertanya di Era Informasi

Di tengah banjir informasi di media sosial, cara berpikir Sokrates menjadi relevan. Jangan mudah percaya begitu saja pada informasi yang beredar. Ajukan pertanyaan kritis: Apakah ini fakta atau hoaks? Apakah argumennya logis atau sesat?

Metode Sokrates mendorong kita untuk tidak puas dengan jawaban sederhana, melainkan terus menggali kebenaran. Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam filsafat, tetapi juga di berbagai bidang, seperti pendidikan, hukum, dan kesehatan. Misalnya, seorang penyuluh kesehatan menggelar diskusi bersama warga untuk meningkatkan kesadaran tentang demam berdarah. Penyuluh menggunakan metode sokratik, atau tanya-jawab, untuk memperdalam wawasan warga sekaligus membangun pola pikir untuk mencapai pemahaman yang tepat.

Selain membantu kita menjadi lebih bijaksana, filsafat Sokrates juga dapat memperkuat jejaring sosial. Mengakui ketidaktahuan dan bertanya pada orang lain membuka peluang untuk membangun hubungan yang lebih bermakna.

Semakin berkualitas pertanyaan yang kita ajukan, semakin kuat pula koneksi sosial yang tercipta. Bertanya bukan hanya cara belajar, tetapi juga sarana membangun kepercayaan dan hubungan.

Pemikiran Sokrates mengajarkan kita bahwa jalan menuju kebijaksanaan dimulai dengan pengakuan atas ketidaktahuan dan keberanian untuk terus bertanya. Prinsip ini relevan dalam kehidupan modern, baik dalam pencarian kebenaran pribadi maupun pengembangan hubungan sosial. ***

Jangan lupa untuk terus mengikuti artikel di BerpikirMengalir.com. Sampai jumpa di pembahasan filsuf berikutnya!