Karl Marx adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah modern. Pemikirannya telah menginspirasi berbagai gerakan sosial selama lebih dari satu setengah abad terakhir. Ia mengungkap bagaimana kemiskinan terus terjadi dalam sistem ekonomi modern, meskipun masyarakat terus bekerja keras. Pemikiran Marx kerap dikaji untuk memahami keadilan sosial, tetapi di sisi lain, juga dianggap kontroversial karena berkaitan erat dengan ideologi komunisme, yang dalam praktiknya sering kali berujung pada kegagalan dan korban jiwa dalam jumlah besar.

Karl Marx lahir di Jerman pada 1818 dan merupakan seorang ahli ekonomi, sosiologi, serta filsafat. Karya-karyanya yang paling berpengaruh, Manifesto Komunis (1848) dan Das Kapital (1867), menjadi landasan bagi pemikiran ekonomi dan politik modern. Marx banyak menulis buku, pamflet, serta artikel yang bertujuan membentuk hak politik bagi pekerja dan kaum buruh.

Materialisme Historis: Fondasi Pemikiran Marx

Marx mengembangkan filsafat materialisme historis, yang menekankan bahwa realitas didasarkan pada keberadaan materi. Ia melihat ekonomi sebagai dasar utama dalam struktur sosial, sementara politik, agama, dan budaya adalah suprastruktur yang dibangun di atasnya. Perubahan dalam sistem ekonomi akan berpengaruh langsung terhadap tatanan sosial, politik, dan budaya masyarakat.

Marx menyatakan, “Bukan kesadaran seorang manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi keberadaan sosialnya yang menentukan kesadarannya.” Ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan sosial seseorang akan membentuk cara berpikir serta kesadarannya terhadap dunia.

Lebih spesifik, Karl Marx mengusung konsep materialisme-dialektika-historis. Dialektika mengacu pada pertentangan antara tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesis baru. Ada pertentangan yang membuat perubahan materi terus terjadi dalam sejarah. Dalam sejarah ekonomi, ia melihat bentuk dialektika yang terjadi adalah konflik antara kelas penguasa dan kelas pekerja yang terus terjadi sejak zaman kerajaan hingga era modern. Pertentangan kelas penguasa versus pekerja yang mendorong perubahan politik.

Dalam Manifesto Komunis, Marx menulis, “Sejarah dari seluruh masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas.” Ini menggambarkan bahwa perubahan sosial selalu dipicu oleh pertentangan antara kelas yang berkuasa dan mereka yang tertindas.

Kapitalisme dan Teori Nilai Lebih

Dalam Das Kapital, Karl Marx mengkritik sistem kapitalisme yang didominasi oleh pemilik modal atau kapitalis. Salah satu teorinya yang terkenal adalah teori nilai lebih, yang menjelaskan bagaimana kapitalis memperoleh keuntungan dari tenaga kerja buruh.

Sebagai contoh, dalam sebuah pabrik, bahan baku bernilai 200 juta dan biaya produksi lainnya sebesar 300 juta, sehingga total biaya adalah 500 juta. Jika hasil produksi bernilai 2 miliar, maka ada nilai lebih sebesar 1,5 miliar. Nilai lebih itu dihasilkan dari kerja para buruh. Apakah buruh dinilai setara dengan nilai kerja itu? Tidak. Nilai kerja itu justru dihitung sebagai profit bagi pengusaha. Buruh hanya menerima gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini menyebabkan kesenjangan sosial, di mana pemilik modal menikmati keuntungan, sementara pekerja tetap berada dalam kondisi ekonomi stagnan.

Marx menggambarkan sistem ini sebagai bentuk eksploitasi dengan pernyataan, “Pemodal adalah pekerja mati yang seperti vampir. Dia hanya bisa hidup dengan cara menghisap pekerja yang hidup. Semakin si pemodal hidup, semakin banyak pula pekerja yang dihisapnya.”

Marx meyakini bahwa kapitalisme mengandung kontradiksi internal yang pada akhirnya akan menghancurkan sistem itu sendiri. Kesenjangan sosial yang terus membesar akan memicu revolusi kelas pekerja dan menciptakan sistem baru yang lebih adil, yaitu sosialisme. Dalam sistem ini, alat produksi tidak lagi dimiliki oleh individu kapitalis, tetapi dikelola secara kolektif untuk kesejahteraan bersama. Tahap akhir dari perubahan ini, menurut Marx, adalah komunisme—sebuah masyarakat tanpa kelas dan tanpa kepemilikan pribadi.

Komunisme dan Pasca-Marxisme

Salah satu kutipan Karl Marx yang terkenal adalah, “Para filsuf biasanya hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara, tetapi yang terpenting adalah mengubah dunia.” Alih-alih berkutat dalam teori semata, Marx memilih berpolitik dengan cara berpihak pada kaum buruh. Keberpihakannya dinyatakan dalam Manifesto Komunis, yang menjadi acuan pergerakan buruh dalam skala global pada masanya.

Pemikiran Karl Marx berkembang luas, terutama setelah diteruskan oleh Vladimir Lenin di Rusia. Lenin membentuk partai komunis dan mendirikan Uni Soviet, yang kemudian menjadi pusat penyebaran ideologi komunisme. Namun, dalam praktiknya, banyak negara komunis mengalami kegagalan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, baik di kalangan pendukung maupun oposisi politik mereka. Jutaan jiwa melayang, terutama saat kepemimpinan Uni Soviet sudah beralih dari Lenin ke Stalin.

Di bidang filsafat, gagasan Karl Marx terus dikaji dan menghasilkan cabang filsafat baru. Banyak filsuf Eropa seperti Jean Baudrillard, Jean-Paul Sartre, dan Michel Foucault yang mengembangkan pemikiran Marx tanpa harus berakhir pada ideologi komunisme. Mereka sering disebut sebagai filsuf pasca-Marxisme atau post-marxism.

Di Indonesia, pemikiran Karl Marx juga memiliki pengaruh yang kuat. Salah satu tokoh Indonesia yang terinspirasi oleh Marx adalah Tan Malaka, yang menulis buku Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika) untuk mencerdaskan rakyat Indonesia. Bahkan, banyak pendiri bangsa Indonesia yang membaca karya Marx. Mereka menggunakan pemikirannya untuk menyusun strategi perjuangan kemerdekaan, di mana kaum pribumi bersatu melawan penjajahan, mirip dengan bagaimana Marx menyerukan kaum pekerja untuk bersatu melawan kapitalis.

Meskipun beberapa prediksi Marx tidak sepenuhnya terbukti, banyak pemikirannya yang tetap relevan hingga saat ini. Kritiknya terhadap kapitalisme masih digunakan untuk menganalisis kesenjangan sosial, upah minimum, dan hak-hak pekerja. Beberapa kebijakan modern, seperti pembatasan jam kerja 8 jam per hari dan perlindungan tenaga kerja, dapat ditelusuri kembali ke perjuangan yang diinspirasi oleh pemikiran Marx.

Dalam dunia politik dan ekonomi saat ini, banyak akademisi, aktivis, dan politikus masih menggunakan teori Marx untuk memahami berbagai fenomena sosial dan ekonomi. Pemikiran Marx tidak hanya sekadar teori ekonomi, tetapi juga alat untuk memahami dinamika kekuasaan, distribusi kekayaan, dan perjuangan kelas yang terus terjadi di masyarakat modern. Meskipun ideologi komunisme yang lahir dari pemikiran Marx mengalami kegagalan di banyak negara, kritiknya terhadap kapitalisme tetap masuk jajaran referensi utama dalam kajian ekonomi-politik.***