Bogor menyimpan kekayaan sejarah yang melimpah. Bukti masa awal dan akhir era Hindu-Buddha di Nusantara, ditemukan di Bogor dan sekitarnya. Sejumlah prasasti yang menjadi bukti keberadaan salah-satu kerajaan tertua di Nusantara, yaitu kerajaan Tarumanegara, ditemukan di Bogor. Bukti keberadaan salah-satu kerajaan bercorak Hindu terakhir di Nusantara, yaitu kerajaan Sunda atau Pajajaran, ditemukan di kota Bogor bagian selatan.
Di kota ini pernah berdiri pusat kerajaan Sunda, Pakwan Pajajaran, yang berkuasa atas seluruh wilayah pulau Jawa bagian barat. Rajanya yang termasyhur, Sri Baduga Maharaja, yang juga dikenal luas sebagai Prabu Siliwangi, tercatat sebagai tokoh penting dalam kajian sejarah maupun legenda dan mitologi etnis Sunda.
Akar Sejarah

Masa jaya Sri Baduga Maharaja, terdokumentasi dengan baik di prasasti Batutulis. Selain sebagai benda peninggalan penanda zaman, prasasti Batutulis juga merupakan sumber tulisan yang cukup lengkap sebagai dasar informasi. Kalimat-kalimat yang terukir di permukaan prasasti, memuat nama tokoh, silsilah, kejadian, lokasi serta waktu. Prasasti Batutulis adalah sumber utama (primer) sejarah kerajaan Sunda. Lokasinya masih sama dengan lokasi penemuannya di wilayah Batutulis, Bogor selatan. Belum dipindahkan. Istana Pakwan Pajajaran dipercaya berada di sekitar lokasi prasasti.
Bukti kerajaan Sunda juga tertera di sejumlah prasasti yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Barat, seperti prasasti Kebantenan dan Kawali. Bukti primer lain adalah berita sezaman. Catatan Portugis abad ke-16 memberitakan adanya pusat pemerintahan di sebelah selatan Sunda Kelapa, yang berpenduduk sekitar 50.000 orang. Berdasarkan catatan angka, Pakwan Pajajaran menjadi kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak, pada masanya.
Selain bukti-bukti primer, terdapat bukti-bukti sekunder berupa naskah kuno yang bercerita tentang kerajaan Sunda, seperti Carita Pahrayangan, Babad Pajajaran dan Wangsakerta. Naskah-naskah ini ditulis setelah Pakwan Pajajaran lenyap. Tingkat akurasinya sebagai sumber sejarah tidak sekuat prasasti, karena ditulis pada zaman yang berbeda, di lokasi yang berbeda pula. Meski begitu, naskah-naskah kuno ini tetap dipakai sebagai sumber sejarah, mewakili memori kolektif masyarakat Sunda. Narasinya diperlukan sebagai narasi pendukung atas temuan arkeologis seperti prasasti yang menjadi sumber primer.
Selain prasasti dan naskah kuno, kisah kerajaan Sunda bertumbuh subur dalam tradisi lisan. Ceritanya disampaikan secara turun-temurun, seiring kebudayaan Sunda yang menaruh hormat mendalam pada karuhun (leluhur). Sosok Prabu Siliwangi menjadi legenda. Diceritakan dengan beragam versi yang terus berkembang, lewat interpretasi rasional bahkan spiritual atau kebatinan.
Ketika perwakilan VOC menemukan sisa-sisa kerajaan Sunda di Pakwan Pajajaran, mereka mendapati lokasi itu menjadi kawasan yang dikeramatkan. Sisi keramat dari bekas Pakwan Pajajaran, masih melekat di Bogor hingga era modern. Banyak makam dan petilasan yang menjadi destinasi spiritual di Bogor. Cerita-cerita tentang Pakwan Pajajaran tanpa konteks sejarah ilmiah beredar, hasil dari wangsit atau penerawangan mata batin.
Dalam kesenian tradisional, kisah Pakwan Pajajaran diungkap lewat wayang, tarian dan pantun. Pakar sejarah Bogor, Saleh Danasasmita, sering memakai kesenian tradisional sebagai referensi untuk menggali kondisi masa lampau. Bukan untuk dipercaya secara langsung, tapi untuk dipahami konteksnya. Keterampilan ini penting dalam historiografi (penulisan sejarah), karena membantu menyelami zeitgeist (jiwa zaman), salah-satu elemen utama dalam kajian sejarah.
Di balik kekayaan narasi yang tersaji, penting untuk senantiasa memilah fakta dan mitos. Sejarah adalah rentetan fakta. Memang, mustahil meraih kepastian absolut tentang kejadian masa lampau, tapi kesahihan ilmiah bisa dicapai dengan mendasarkan penulisan sejarah pada temuan arkeologis. Ini cara yang diakui secara akademis.
Kejayaan kerajaan Sunda, yang berpusat di Pakwan Pajajaran, dengan Sri Baduga Maharaja sebagai pemimpin yang termasyhur, adalah fakta yang berdasarkan temuan arkeologis. Prasasti Batutulis, sebagai sumber utamanya, menjadi warisan tak ternilai yang masih bisa kita temukan di kota Bogor. Tahun yang tertera pada prasasti Batutulis, diperingati sebagai tahun kelahiran kota dan kabupaten Bogor.
Perayaan HJB
Penetapan hari jadi ini sangat penting. Seperti Sri Baduga Maharaja yang menyatukan dua kerajaan bersaudara, Sunda dan Galuh, demikian pula Hari Jadi Bogor (HJB) menyatukan kota dan kabupaten Bogor. Dua wilayah yang berbeda di era modern, dengan akar sejarah yang sama. HJB memantik semangat kesatuan yang tak akan terlupakan, karena pasti akan diperingati setiap tahun.
Perihal kesatuan, karuhun Sunda memiliki filosofi “Silih asah, silih asih, silih asuh”, yang berarti saling mendidik, saling menyayangi dan saling membimbing. Ini adalah jawaban atas segala masalah yang mungkin timbul akibat perbedaan. Filosofi luhur yang membentuk kesatuan tanpa mengesampingkan kemajuan bersama. Sebuah solusi yang bisa kita pakai untuk mengatasi polarisasi yang berpotensi muncul akibat perkembangan demokrasi.
HJB bisa menjadi momentum refleksi tahunan bagi warga Bogor, untuk senantiasa menjunjung persatuan dan kesatuan. Dalam peringatan HJB di kabupaten maupun kota Bogor, diselenggarakan event Helaran. Pawai beragam budaya. Saling menghibur, saling menebar ekspresi, saling mewarnai. Beragam latar, turun sejalan, bersatu-padu. Sejalan pula dengan semangat nasional Bhinneka Tunggal Ika.
Sejarah membentuk identitas Bogor. Di wilayah inilah bertahta Sri Baduga Maharaja, pengusung persatuan dan kemajuan yang berperan penting dalam sejarah tatar Sunda. Semoga semangat persatuan itu terus hidup dalam setiap selebrasi HJB. Selamat hari jadi untuk segenap warga Bogor.***
Andri Ersada Tarigan, S.S.
Penulis adalah Kurator, CPNS Bidang Kebudayaan Disparbud Kota Bogor


