Astana Gede Kawali Ciamis
Astana Gede Kawali Ciamis

Situs cagar budaya Astana Gede di Kawali, Ciamis, menyimpan informasi sejarah tentang latar belakang kejayaan kerajaan Sunda. Di kompleks ini, terdapat prasasti dan artefak peninggalan kerajaan Galuh. Salah-satunya, batu penobatan kekuasaan Prabu Jayadewata. Jayadewata di kemudian hari dikenal sebagai Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, pemimpin yang menyatukan seluruh Jawa bagian barat dan membawa kerajaan Sunda ke masa kejayaan.

Batu penobatan atau diwastu raja-raja Galuh masih bisa ditemukan di Astana Gede, Kawali. Artefak itu bernama Batu Palinggih. Pada papan keterangan artefak tertulis, “Tempat penobatan/diwastu para raja Sunda Galuh di Kawali. Raja terakhir yang dinobatkan di sini adalah Prabu Siliwangi sewaktu menerima tahta kerajaan Galuh Pakuan tahun 1482.”

Menurut sejarawan Saleh Danasasmita dalam buku Sejarah Bogor (hal 53-54), Prabu Jayadewata adalah keturunan Langga Buana, raja Galuh yang gugur dalam medan perang Bubat (konflik antara Majapahit dan Galuh) pada 1357. Ketika Langga Buana dan tiga puteranya meninggal di Bubat, tahta kerajaan Galuh diwariskan ke anak yang paling bungsu, Niskala Wastu Kencana.

Setelah Niskala Wastu Kencana Meninggal pada 1475, dua puteranya dari dua istri berbeda, menjadi penguasa yang sejajar. Prabu Susuk Tunggal bertahta di Pakwan Pajajaran menguasai kerajaan Sunda, dan Dewa Niskala bertahta di Kawali meneruskan garis keturunan kerajaan Galuh.

Prabu Jayadewata adalah putera dari raja Galuh, Dewa Niskala. Ketika masih berstatus putera mahkota, Prabu Jayadewata menikahi Kentring Manik, puteri dari raja Sunda, Prabu Susuk Tunggal. Setelah menikah, Prabu Jayadewata tinggal di Pakwan Pajajaran, tempat mertuanya.

Sementara itu di Kawali, Dewa Niskala membuat kesalahan yang membuat nama baiknya sebagai raja Galuh tercoreng. Dewa Niskala menikahi seorang pengungsi asal Majapahit yang kebetulan sudah bertunangan.

Setidaknya ada dua kesalahan. Pertama, dia melanggar tabu untuk menikah dengan kerabat dari keraton Majapahit. Tabu itu muncul karena duka masa lalu perang Bubat. Kedua, berdasarkan peraturan resmi kerajaan, wanita yang sudah bertunangan, tidak bisa dinikahi lelaki lain kecuali tunangannya sudah meninggal dunia.

Kesalahan ini membuat raja Sunda, Prabu Susuk Tunggal marah dan mengancam akan memutus hubungan dengan Kawali. Suasana antara Sunda dan Galuh memanas. Perselisihan diakhiri dengan jalan tengah, kedua raja sama-sama mengundurkan diri.

Prabu Jayadewata, yang merupakan penerus tahta di kerajaan Galuh (karena ayahnya raja) dan kerajaan Sunda (tahta diserahkan oleh mertuanya) dinobatkan menjadi penguasa Galuh dan Sunda pada 1482. Dia memilih Pakwan Pajajaran sebagai ibu kota dan semua wilayah kekuasaannya menjadi wilayah kerajaan Sunda.

Di buku Sejarah Bogor hal. 67 dijelaskan, Prabu Jayadewata naik tahta sebagai penguasa Pajajaran dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dia dinobatkan (diwastu) dua kali. Penobatan pertama berlangsung di Kawali dan yang kedua berlangsung di Pakwan Pajajaran. Dia memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Kejayaannya sebagai pemimpin kerajaan Sunda tertera di prasasti Batutulis dan banyak naskah Sunda kuno. Sosoknya dikenal luas sebagai Prabu Siliwangi.***