Setiap hari, pekerjaan, kemacetan, drama sosial, dan tumpukan masalah hidup lainnya menghampiri dan berusaha menunda ketenangan kita. Seolah-olah, masalah-masalah itu berkata, “Hei, kamu tidak berhak hidup tenang!” Ketika kesibukan terlalu menjebak, hidup terasa hambar dan kita dihantui emosi negatif seperti marah, letih, sulit fokus, dan sebagainya.

Padahal, semua yang kita jalani di masa sekarang, sistem ekonomi serta teknologinya, dirancang untuk mempermudah kita menjalani hidup. Lantas, kenapa emosi negatif masih sering terpicu di tengah semua kemudahan hidup yang telah dirancang dalam sistem ekonomi modern? Bisa jadi, bukan cara hidupnya yang menjadi masalah, melainkan cara berpikir kita sendiri yang mempersulit keadaan.

Paradigma Dikotomi Kendali dalam Filsafat Stoikisme

Ada satu paradigma yang dicetuskan ribuan tahun lalu dan masih relevan untuk kita pakai hari ini sebagai cara yang mudah untuk senantiasa hidup tenang, apapun bentuk kesibukan yang kita lalui. Paradigma ini bernama Dikotomi Kendali, bagian dari filsafat Stoikisme yang berkembang di Yunani kuno sekitar dua ribu tahun yang lalu, dan terus berkembang pada era Romawi kuno. Stoikisme sebagai ajaran filsafat menekankan pentingnya pengendalian diri. Seorang filsuf Stoikisme, kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius, dalam bukunya yang termasyhur berjudul Meditations menuliskan, “Kamu memiliki kendali atas pikiranmu. Bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.”

Konsep Dikotomi Kendali oleh Epictetus

Paradigma Dikotomi Kendali dicetuskan oleh filsuf Stoikisme dari era sebelum Marcus, bernama Epictetus dari masa Yunani kuno. Dikotomi Kendali membagi unsur-unsur di hidup kita ke dalam dua hal. Pertama, hal yang berada dalam kendali diri seperti persepsi, emosi, dan tindakan. Kedua, hal yang berada di luar kendali diri seperti kondisi cuaca, kekayaan orang lain, dan masa depan.

Jika kita berfokus pada hal di luar kendali diri, kita membuang waktu dan energi. Kita menyerahkan pikiran pada ketidakpastian yang sama sekali berada di luar kendali kita. Sehingga, sangat wajar jika ujungnya kita menjadi resah atau khawatir. Akibatnya, kita sulit hidup tenang.

Menerapkan Dikotomi Kendali dalam Kehidupan

Persepsi apa yang kamu pakai ketika gagal menjalani sesuatu? Apakah memojokkan diri sendiri yang terlanjur gagal? Padahal, kegagalan muncul bukan semata karena faktor diri pribadi. Ada banyak faktor yang membuat kegagalan terjadi. Sebagian besar faktor itu berada di luar kendali diri. Kenapa kita harus meresahkan kegagalan itu dan memojokkan diri sendiri?

Sebaliknya, jika kita berfokus pada hal-hal yang berada dalam kendali diri, kita akan lebih mudah menentukan apa yang harus dilakukan dan punya kapasitas melakukannya. Kita jadi lebih tenang. Fokus pada apa yang memang bisa kamu kendalikan. Tetaplah di area itu. Amati, kembangkan, dan belajar untuk merelakan hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Jangan biarkan hal di luar kendali menghadirkan keresahan dan merenggut kebahagiaanmu. Hidup terlalu singkat untuk memusingkan hal di luar kendali diri.

Kita tidak perlu impulsif atau terlalu reaktif terhadap hal-hal di sekitar kita. Ketika masalah muncul, pilah dulu mana yang berada dalam kendali diri. Tetapkan tindakan atau solusi berdasarkan pembagian itu. Ini melatih kita untuk lebih mampu mengendalikan diri dan lebih bijaksana dalam mengambil solusi.

Objektivitas dalam Dikotomi Kendali

Sekalipun Dikotomi Kendali berangkat dari pembagian berdasarkan kendali diri, bukan berarti kita didorong untuk berpikir subjektif. Bukan berarti kita jadi tak mempedulikan orang lain. Bukan berarti kita jadi sesuka hati menghindari tanggung jawab dengan dalih sesuatu itu berada di luar kendali diri. Itu justru menyesatkan dan membuat kita menghindari masalah, bukan menyelesaikannya.

Dikotomi Kendali menuntut kita agar lebih objektif dalam memandang apa yang harus dipikirkan, dilakukan, dan dimaksimalkan, tanpa terjebak dalam kekhawatiran. Kita mencari hal yang memang merupakan bagian kita, sehingga tidak buang-buang waktu dan energi mengurusi hal di luar itu. Kita jadi lebih mudah berbagi tanggung jawab dengan orang lain dan terhindar dari konflik kepentingan. Hidup jadi lebih tenang dan damai.

Popularitas Stoikisme di Indonesia

Di Indonesia, beberapa tahun belakangan, paradigma Dikotomi Kendali dipopulerkan kembali oleh penulis bernama Henry Manampiring melalui bukunya berjudul Filosofi Teras. Lewat cara menulis yang renyah dan didukung dengan data serta fakta terkini, Henry Manampiring memperkenalkan kembali aliran filsafat Stoikisme atau Stoa, yang diberi nama lain oleh Henry sesuai judul bukunya yaitu Filosofi Teras. Di dalamnya, Henry mengulas soal Dikotomi Kendali dan bagaimana Dikotomi Kendali membantu seseorang menjadi lebih rileks menghadapi tekanan hidup.

Di buku Filosofi Teras, sebuah kutipan dari filsuf stoikisme bernama Seneca tertulis, “Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru terjadi. Pikirlah apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.”***