Bagaimana filsafat dapat membantu kita memahami beragam fenomena yang muncul akibat media digital? Salah satu pemikiran yang relevan adalah pandangan filsuf Jean Baudrillard mengenai hiperealitas dan dunia simulasi.

Mengenal Jean Baudrillard

Jean Baudrillard adalah seorang filsuf posmodernisme dan pengamat sosial asal Prancis. Lahir pada tahun 1929 dan meninggal dunia pada tahun 2007, Baudrillard sangat memperhatikan dampak industri media terhadap pandangan manusia terhadap kenyataan. Menurutnya, manusia saat ini hidup dalam dunia simulasi. Industri media menyebar cerita, gambar, dan simbol-simbol yang membuat kita semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Hiperealitas dan The Matrix

Pemikiran Baudrillard menjadi inspirasi bagi film The Matrix. Pada awal film, tokoh utama Neo (Keanu Reeves) mengambil buku berjudul Simulacra and Simulations karya Jean Baudrillard yang terbit pada tahun 1981. Film ini menggambarkan kondisi manusia di masa depan, ketika teknologi simulasi semacam virtual reality membajak pikiran manusia, sehingga mereka menganggap dunia masih berjalan normal, padahal kenyataannya dunia sudah hancur.

Namun, Baudrillard sendiri tidak menyukai The Matrix. Dia mengkritik film tersebut dan menilai film The Matrix tidak sejalan dengan pandangan filsafatnya. Menurut Baudrillard, simulasi tidak sekadar gambar-gambar di dalam goa yang bisa kita hindari dengan keluar dari goa, seperti pandangan Plato. Dia berpendapat bahwa simulasi membuat kita tidak bisa lagi kembali pada realitas yang sesungguhnya. Kita memasuki hiperealitas. Realitas dan simulasinya sudah bercampur dan tak terpisahkan.

Hiperealitas sebagai Realitas Baru

Informasi media sangat mempengaruhi persepsi atau pandangan kita tentang kenyataan. Sekalipun informasi itu berisi cerita yang nyata, itu sudah melalui banyak proses. Teknologi media, teori komunikasi, dan regulasi bisnis, telah mengubah informasi itu. Informasi yang kita konsumsi adalah tiruan kenyataan. Kebenaran yang kita percaya merupakan tiruan kebenaran.

Baudrillard menyatakan, “Simulation is no longer that of a territory, a referential being or a substance. It is the generation by models of a real without origin of reality: a hyperreal.” Artinya, simulasi tidak lagi menggambarkan realitas yang sebenarnya, melainkan menciptakan realitas baru tanpa asal usul yang jelas.

Empat Tingkatan Dunia Simulasi

Baudrillard membagi dunia simulasi dalam empat tingkatan:

  1. Gambaran yang mencerminkan kenyataan: seperti berita dan film dokumenter.
  2. Gambaran yang membelokkan kenyataan: seperti iklan dan kampanye politik.
  3. Gambaran yang memisahkan diri dari kenyataan: seperti film fiksi.
  4. Gambaran yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan: seperti simulakra atau simulacrum, gambaran dari gambaran, fotokopi dari fotokopian, tiruan dari tiruan.

Menurut Baudrillard, manusia saat ini hidup di dalam simulakra. Informasi yang kita konsumsi merupakan gambaran atas gambaran. Tanda dan simbol menjadi dasar keyakinan, bukan realitas yang sebenarnya. Dunia simbol sudah menjadi kenyataan kita.

Dampak Era Digital

Di era digital, kenyataan sudah tidak lagi penting. Kita lebih memilih beraktivitas berdasarkan tanda, teks, dan angka yang tersimpan di ponsel kita. Mulai dari aplikasi produktivitas hingga media sosial, semua itu adalah simulasi dari kenyataan. Simulasi digital menjadi patokan hidup kita di era internet.

Ketika persepsi manusia semakin jauh dari kenyataan, hoaks jadi lebih mudah menyebar. Terjadilah fenomena post-truth atau pasca-kebenaran. Kebenaran menjadi sesuatu yang dirancang, dan asumsi seseorang bisa disebarkan agar dinilai sebagai fakta. Kebohongan yang diulang terus-menerus bisa dianggap sebagai kebenaran.

Partisipasi dalam Dunia Simulasi

Menurut Baudrillard, kita tidak bisa keluar dari dunia simulasi ini. Yang perlu kita lakukan adalah berpartisipasi dan tetap menikmati hidup sebagai manusia di dalamnya. Hiperealitas adalah realitas kita.***