Pernahkah kamu melakukan sesuatu karena terpaksa? Kamu tidak yakin itu perbuatan yang benar, tapi kamu melakukannya karena banyak orang meyakini itu benar. Kamu terpaksa yakin. Pernahkah kamu harus mempertahankan suatu identitas, padahal sebenarnya tidak menyukainya? Semua orang pernah mengalaminya.

Hal ini menjadi perhatian dari filsuf Prancis, Jean-Paul Sartre, yang meyakini bahwa manusia terlahir bebas. Atau lebih tepatnya, terkutuk untuk bebas. Kenapa terkutuk? Karena kebebasan yang dimiliki manusia menghadirkan kecemasan atau “angst”. Untuk menghindari kecemasan itu, banyak orang mengingkari kebebasannya sendiri dengan berpegang pada keyakinan yang diajarkan orang lain, meskipun tidak benar-benar meyakininya.

Kebebasan adalah Nilai Utama Manusia

Jean-Paul Sartre menilai bahwa kita tidak perlu menghindari kebebasan. Satu-satunya nilai manusia adalah kebebasannya. Kita bebas memilih dan bertanggung jawab atas makna diri yang kita pilih. Kita hidup bebas dengan bertindak seperti seniman yang melukis hidupnya sendiri. Sartre menegaskan bahwa kita tak perlu menghindari kebebasan, karena kita terkutuk untuk bebas seumur hidup.

Eksistensi Menghasilkan Esensi

Sartre meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini ada tanpa makna. Gunung, batu, tanaman, hewan, dan langit semua eksis tanpa makna, termasuk manusia. Hanya saja, manusia bisa menyadari keberadaannya dan memiliki kesadaran. Kesadaran itu menghadirkan kebebasan untuk menentukan makna atau esensi.

Kalimat paling populer dari Sartre adalah “Eksistensi menghasilkan esensi”. Berbeda dengan pandangan umum pada masanya, bahwa manusia terlahir dengan esensi tertentu, Sartre berpandangan bahwa manusia terlahir dan muncul begitu saja tanpa nilai esensi apa pun yang melekat pada dirinya. Manusia terlahir bebas, dan nilai manusia adalah kebebasannya. Esensi atau makna seseorang menyusul kemudian, berdasarkan keyakinannya sendiri atau keyakinan yang diajarkan orang lain.

Bad Faith atau Keyakinan Buruk

Ketika seseorang berpegang pada suatu keyakinan karena keterpaksaan, Sartre menilai orang itu terjebak dalam “bad faith” atau keyakinan buruk. Sartre mengibaratkan konsep ini seperti seorang pelayan kafe yang berpakaian rapi sesuai dress code, sangat ramah terhadap pelanggan, namun melakukan semua itu karena diperintah. Si pelayan tidak benar-benar meyakini apa yang dilakukannya, tapi terpaksa melakukannya demi upah atau gaji kecil untuk bertahan hidup. Hidupnya terjebak dalam bad faith. Sartre menganggap orang itu seharusnya bebas menjadi apa pun, jika dia mau bertindak dan bertanggung jawab berdasarkan keyakinannya sendiri.

The Look atau Tatapan Orang Lain

Selain bad faith, konsep lain yang menurut Sartre menghalangi manusia untuk berpegang pada kebebasannya adalah the look atau tatapan orang lain. Dalam hubungan sosial, setiap orang diperlakukan sebagai satu objek yang ditatap oleh banyak orang. Padahal, setiap orang seharusnya menjadi subjek atau pelaku kebebasan. Namun, tatapan orang lain mengubah posisi seseorang dari subjek menjadi objek. Sartre menggambarkan fenomena ini dengan kalimat, “Hell is other people”.

Hubungan Inter-Subjektivitas

Zaman sekarang, manusia berlomba eksis dan semakin berani unjuk diri, misalnya dengan selfie di media sosial. Setiap orang menulis ceritanya masing-masing. Keunikan setiap orang semakin terpampang jelas. Kebebasan untuk berani eksis yang kita adopsi hari ini dipengaruhi oleh terobosan filosofis yang dilakukan filsuf eksistensialisme seperti Sartre.

Ketika setiap orang berani menunjukkan keunikan masing-masing, hubungan sosial menjadi intersubjektivitas. Kebebasan kita terhubung satu sama lain. Kebebasan satu orang menjadi bagian dari jejaring kebebasan umat manusia secara keseluruhan. Karena kebebasan kita terkait satu sama lain, Sartre menilai kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab pribadi. Ketika seseorang bertanggung jawab atas kebebasannya sendiri, dia juga bertanggung jawab atas kebebasan manusia secara keseluruhan.

Kebebasan dan Tanggung Jawab

Sartre memandang bahwa eksistensi dan esensi kita senantiasa berubah setiap saat. Seperti kayu yang berproses menjadi arang, eksistensi atau keberadaan seseorang berubah seiring waktu, dan esensinya juga berubah. Setiap eksistensi baru memunculkan kebebasan baru untuk pemaknaan atau penetapan esensi baru. Hal ini berlangsung terus-menerus hingga kematian.

Kita terkutuk untuk bebas seumur hidup. Sekalipun sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan, setiap orang pasti akan kembali mengalami kecemasan karena kebebasan yang terus muncul. Setiap orang harus mengisi lagi eksistensinya setiap waktu. Pertanyaan kebebasan akan muncul setiap saat. Kebebasan tanpa henti yang dimiliki setiap orang terus terhubung satu sama lain dalam kehidupan sosial. Dampaknya, kita harus terus bebas dan bertanggung jawab dalam hubungan intersubjektivitas yang senantiasa berubah. Hubungan sosial menuntut kita untuk dinamis dan kreatif menjalani hidup.

Barisan pertanyaan ini akan terus berlaku: Apa makna diri yang kamu yakini sekarang? Apa tindakanmu karena keyakinan itu? Seperti apa pertanggungjawabannya? Selamat menikmati kebebasan tanpa henti.***