Pada 3 September 2024, program Rakyat Bersuara di iNews TV menampilkan perdebatan panas antara Rocky Gerung dan Silfester Matutina terkait prinsip filosofis yang dikenal sebagai Occam’s Razor. Dalam dialog tersebut, Rocky Gerung berusaha menjelaskan konsep ini, namun mendapat reaksi keras dari Silfester yang tidak setuju dengan cara berpikir Rocky.

Apa Itu Occam’s Razor?

Occam’s Razor, atau Pisau Cukur Occam, adalah prinsip pemikiran yang dipopulerkan oleh William of Ockham, seorang filsuf dan pastor Inggris dari abad ke-14. Prinsip ini menyatakan bahwa ketika dihadapkan dengan beberapa penjelasan yang mungkin untuk suatu fenomena, penjelasan yang paling sederhana dan paling mudah diuji adalah yang paling mungkin benar.

Dialog Panas di Rakyat Bersuara

Dalam program tersebut, Silfester menantang Rocky Gerung dengan pertanyaan: “Mana bukti Jokowi cawe-cawe?” Rocky kemudian menggunakan prinsip Occam’s Razor untuk menjawab bahwa Jokowi kemungkinan besar terlibat secara langsung dalam Pilpres 2024.

Rocky menjelaskan bahwa dengan menggunakan prinsip parsimoni, atau Occam’s Razor, kita bisa menyimpulkan bahwa keterlibatan Jokowi merupakan penjelasan yang paling sederhana. Namun, Silfester, yang memiliki latar belakang hukum, menuntut bukti konkret. Perdebatan pun memanas saat Silfester mulai mengeluarkan kata-kata kasar, termasuk menyebut Rocky dengan kata-kata yang kurang pantas.

Penjelasan Occam’s Razor

Occam’s Razor menganjurkan kita untuk memilih penjelasan yang paling sederhana jika terdapat beberapa versi penjelasan yang bersaing. Metode ini sering digunakan dalam ilmu pengetahuan dan filsafat untuk mengeliminasi asumsi-asumsi yang berlebihan. Sebagai contoh, jika kita memiliki dua hipotesis untuk menjelaskan suatu peristiwa, yang lebih sedikit mengandung asumsi atau kompleksitas lebih mungkin untuk benar.

Contoh Kasus: Apakah Jokowi Cawe-cawe di Pilpres 2024?

Pertanyaan ini menjadi inti perdebatan di program tersebut. Berikut adalah dua versi jawaban yang bisa dianalisis menggunakan Occam’s Razor:

  1. Jokowi Tidak Cawe-cawe
    Argumen ini menyatakan bahwa meskipun Ketua MK adalah ipar Jokowi, perubahan batas usia capres/cawapres dilakukan atas dasar tuntutan hukum, bukan karena intervensi Jokowi. Gibran, anak Jokowi, memang menjadi calon wakil presiden, tetapi hal tersebut terjadi karena keputusan Mahkamah Konstitusi. Koalisi Prabowo-Gibran yang terdiri dari sebagian besar anggota kabinet Jokowi diklaim sebagai inisiatif partai politik, bukan siasat Jokowi.
  2. Jokowi Cawe-cawe
    Hipotesis ini menyatakan bahwa Jokowi memang terlibat secara aktif dalam Pilpres 2024 dengan tujuan agar anaknya, Gibran, bisa menjadi wakil presiden.

Menurut Occam’s Razor, hipotesis kedua, yaitu bahwa Jokowi cawe-cawe, adalah penjelasan yang paling sederhana. Hipotesis ini dapat diuji dengan melihat hasil akhir Pilpres: jika Gibran menjadi wapres, maka keterlibatan Jokowi bisa dianggap terbukti.

Kesimpulan

Debat mengenai keterlibatan Jokowi dalam Pilpres 2024 memperlihatkan bagaimana Occam’s Razor dapat digunakan dalam argumen politik. Prinsip ini membantu menyederhanakan kompleksitas situasi dengan fokus pada jawaban yang paling mudah diuji. Meski begitu, penerapan prinsip ini sering kali memicu kontroversi, seperti yang terlihat dalam perdebatan antara Rocky Gerung dan Silfester.