Ada seorang filsuf yang tak mau punya pengikut. Dia tidak mau siapapun menjadi seorang pengikut. Dia mau para pembaca tulisannya, bertindak melampaui nilai-nilai yang sudah pernah ada. Dia mau setiap orang berusaha melahirkan nilai-nilai baru. Filsuf ini bernama Friedrich Nietzsche.
Kehidupan dan Pemikiran Nietzsche
Friedrich Nietzsche hidup pada 1844-1900. Dia adalah seorang filsuf, penulis esai, dan kritikus kebudayaan dari Jerman. Dia sudah menjadi profesor pada usia 24 tahun di Universitas Bassel di Swiss pada 1869. Kalimatnya yang paling terkenal adalah “Tuhan telah mati”, meskipun itu bukan gagasan utamanya. Istilah “Kematian Tuhan” yang dipakai Nietzsche menjadi konteks di mana dia menawarkan gagasan untuk mencegah kemunduran pencapaian kebudayaan manusia, yaitu gagasan soal ubermensch atau manusia unggul. Kalimat populer lainnya adalah “What doesn’t kill you, makes you stronger.”
Dari Teologi ke Filologi
Nietzsche lahir dari keluarga Kristen yang sangat taat. Ayahnya adalah pendeta yang dihormati di desanya, dan Nietzsche dibesarkan untuk menjadi pendeta seperti ayahnya. Ketika Nietzsche berusia hampir 5 tahun, ayahnya meninggal. Namun, dia tetap giat belajar untuk mendalami ilmu agama. Dengan kemampuan akademik yang bagus, dia diterima untuk belajar teologi di sekolah prestisius di wilayah Prussia, yaitu Schulpforta. Dia melanjutkan studinya di Universitas Bonn. Pada masa kuliah ini, Nietzsche semakin tenggelam dalam kecerdasannya dan mengambil keputusan ekstrem. Dia meninggalkan ilmu agama dan memilih fokus pada studi naskah klasik atau ilmu filologi. Dia berhasil menjadi profesor filologi yang mengajar literatur Yunani kuno di usia yang sangat muda, yaitu 24 tahun pada 1869.
Apollonian vs Dionysian
Beranjak dewasa, Nietzsche tak percaya lagi pada iman Kristen yang diajarkan kepadanya. Dia lebih tertarik pada kreativitas yang dialaminya secara naluriah. Ini dua sisi yang menjadi tema utama dalam filsafat Nietzsche. Dalam buku pertamanya, Lahirnya Tragedi, Nietzsche membagi kebudayaan manusia dalam dua sisi, yaitu Apollonian dan Dionysian. Apollonian adalah kebudayaan yang keindahannya suci dan teratur, seperti agama. Sementara Dionysian adalah kebudayaan yang keindahannya naluriah dan spontan, seperti kreativitas. Pembagian dua sisi ini banyak dipakai dalam penelitian kebudayaan di masa sekarang.
Gagasan Apollonian versus Dionysian diadopsi Nietzsche dari nama dewa Yunani kuno. Apollo adalah dewa yang tenang dan penuh kasih sayang, keindahannya harmonis. Sementara Dionysius adalah dewa yang emosional dan suka mabuk-mabukan, keindahannya penuh gairah. Pertemuan kedua sisi kebudayaan ini, harmoni yang teratur dan gairah yang spontan, melahirkan tragedi. Adanya tragedi, meski mengandung penderitaan, membuat hidup kita menjadi dinamis. Pengalaman kita jadi lebih berkembang, beragam, dan zaman jadi terus berubah. Nietzsche mengajak kita untuk berani terjun ke dalam tragedi dan menikmati tarian duet Apollonian dan Dionysian.
Kehidupan Pribadi dan Kritik Sosial
Nietzsche berhenti mengajar di universitas pada 1878. Dia pensiun muda di usia 32 tahun karena kesehatannya memburuk, terlibat konflik emosional mendalam, dan gagasannya semakin liar. Nietzsche memilih hidup menyendiri dan fokus berfilsafat. Ini menjadi era keemasannya. Dia suka berjalan sendirian di alam bebas yang segar di Swiss untuk menjernihkan pikiran. Baginya, menyendiri adalah cara menembus batas diri. Salah satu kritiknya pada masyarakat adalah, “Di level individu, kegilaan jarang terjadi. Di level kelompok, bangsa, masyarakat, kegilaan adalah peraturan.”
Dalam karya awalnya, Nietzsche mengapresiasi kebudayaan Apollonian dan Dionysian. Namun, dalam perkembangan filsafatnya, Nietzsche memilih menjadi Dionysian total. Tulisan-tulisannya menjadi sangat kreatif, penuh aforisme, dan metafora. Gagasan filsafatnya disebar secara acak, random, dan chaos. Nietzsche menuliskan, “Seseorang harus merasakan chaos dalam dirinya, untuk melahirkan sebuah bintang yang menari.”
Manusia Unggul
Karya terbesar Nietzsche adalah buku berjudul Also Sprach Zarathustra atau Maka Bersabdalah Zarathustra!. Dia meminjam nama nabi dari agama Zoroastrian, agama resmi di zaman Persia kuno yang masih ada sampai sekarang. Dalam buku Zarathustra, Nietzsche menyampaikan doktrin manusia unggul. Dalam bahasa Jerman disebut ubermensch, dalam bahasa Inggris disebut superman atau over-man. Manusia unggul adalah orang yang tidak menjadi pengikut semata namun menjadi pencipta nilai baru. Manusia unggul adalah bentuk evolusi berikutnya dari manusia sekarang, sebagaimana manusia sekarang lebih unggul dari leluhurnya bangsa kera. Keunggulan itu ditandai dengan terobosan kebudayaan, terobosan nilai, dan terobosan keyakinan. Manusia unggul adalah orang yang menilai ulang nilai-nilai dan menjadi manusia yang melampaui dirinya sendiri.
Tantangan terhadap Pengikut
Kritik Nietzsche tidak hanya kepada kaum agama, tapi juga kepada orang atheis, bahkan kepada orang yang percaya kepada kebenaran saintifik. Jika kita jadi pengikut semata, menurut Nietzsche, kita sedang mengalami dekadensi atau kemunduran. Ibaratnya begini: Yang Anda yakini itu sudah ditemukan di masa lalu, pertanyaannya, yang Anda temukan sekarang, apa? Ketika seseorang mengikuti Nietzsche, dia tidak boleh mengikuti Nietzsche. Dia mesti lain, mesti melahirkan hal baru. Nietzsche menyatakan, “You have your way. I have my way. As for the right way, the correct way, and the only way, it does not exist.”***

